Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2009

Rencana Pengurangan Abjad

Kudapat "berita" ini dari salah satu mailing list yang kuikuti. Menarik sekali. Seriuskah? Mari kita simak dan cermati bersama. ;)
Belakangan ini timbul desas-desus akan dibuatkannya aturan-aturan baru dalam penggunaan bahasa Indonesia. Salah satunya adalah mengurangi jumlah abjad pada bahasa Indonesia.
Abjad yang digunakan di dalam bahasa Indonesia berjumlah 26. Ke-26 abjad tersebut rasanya masih terlalu banyak, lagipula ada beberapa abjad yang jarang sekali digunakan. Oleh karena itu, mari kita sederhanakan abjad-abjad tersebut dan menyesuaikannya dengan kata-kata yang kita gunakan.
Pertama-tama, huruf X, kita ganti dengan gabungan huruf K dan S. Kebetulan hampir tidak ada kata dalam bahasa Indonesia asli yang menggunakan huruf ini. Kebanyakan merupakan kata serapan dari bahasa asing. Misalnya taxi menjadi taksi, maximal menjadi maksimal, dst.
Selanjutnya, huruf Q kita ganti dengan KW. Serupa dengan X, kata2 yang mengunakan huruf ini juga sangat sedikit. Berikutnya, huruf Z. Huruf Z kita ganti menjadi C. Tidak ada alasan kuat tentang hal ini. Huruf Y diganti dengan I. Hal ini dilakukan sebab bunii huruf tersebut mirip dengan I. Kemudian huruf F dan V keduania diganti menjadi P. Pada lepel ini masih belum terjadi perubahan iang signipikan. Hurup W kemudian diganti menjadi hurup U.
Berarti sampai saat ini kita sudah mengeliminasi 7 hurup. Hurup iang bisa kita eliminasi lagi adalah R, mengingat baniak orang iang kesulitan meniebutkan hurup tersebut. R kita ganti dengan L.
Selanjutnia, gabungan hulup KH diganti menjadi H. Iang paling belpengaluh adalah hulup S iang diganti menjadi C. Hulup G juga diganti menjadi K. Dan hulup J juga diganti menjadi C. Caia laca cudah cukup untuk hulup-hulup konconannia. Cekalank kita kanti hulup pokalnia. Cuma ada lima hulup pokal, A, I , U, E, O.
Kita akan eliminaci dua hulup pokal. Hulup I mencadi dua hulup E iaitu EE.
Cementala hulup U mencadee dua hulup O iaitoo OO. Cadi, campe cekalank, keeta belhaceel menkulangee hooloop-hooloop keeta. Kalaoo keeta tooleeckan lagee, hooloop-hooloop eeang telceeca adalah : A, B, C, D, E, H, K, L, M, N, O, P, T.
Haneea ada 12 belac hooloop !! Looal beeaca bookan ?? Padahal cebeloomneea keeta pooneea 26 hooloop. Eenee adalah penemooan eeang cankat penteenk dan cikneepeekan !! Co, ceelahkan keeleemkan tooleecan anda denkan menkkoonakan dooa belac hooloop telceboot.

Sabtu, 16 Mei 2009

Gedang

Alkisah... di masa penjajahan Indonesia oleh Belanda, beratus tahun yang lalu. Seorang tentara Belanda yang terpisah dari pasukannya tersesat ke kebun pisang milik seorang petani di daerah Jawa Tengah.
Dia lapar dan haus. Tak ditemukannya makanan yang dia harap bisa menjadi pengganjal perutnya. Namun kenudian, dia bertemu dengan si pemilik kebun yang sedang beristirahat di bawah pohon, menikmati pisang matang dari sebuah tandan besar. Menitik air liurnya. Ditanggalkanlah kesan garang ketentaraannya. Dia menunjuk pisang di sebelah si petani yang serasa memanggil-manggilnya. Komunikasi mereka tak lancar karena bahasa yang berbeda. Si petani bingung dan agak takut. Wajar saja, karena si tentara jelas membawa senapan sedangkan ucapnya tak jelas menyatakan makna. Bule ini mau apa?
Kembali si tentara menunjukkan gerakan menunjuk pisang dan seolah memakannya. Ah... si petani mengerti. Dipotongnya satu sisir pisang dan diberikannya pada si tentara, dengan harapan dia segera pergi meninggalkan kebunnya dengan damai. Benar saja.
"Gedank" kata si tentara mengucap terima kasih.
"Gedhang..." ucap si petani menirukan ucapan si tentara, seolah ada kata sepakat atas satu kesepahaman di antara mereka.
Si tentara mengucap terima kasih, sedangkan si petani mengira tentara itu mengucapkan kata "pisang" dalam bahasa asing. Diberitahukannya kata baru itu kepada keluarga dan tetangganya. Sejak saat itu, orang Jawa tengah menggunakan kata "gedhang" untuk menyebut buah pisang.
O-oo... lain lagi ceritanya di Jawa Barat. Tentara yang berbeda tentunya, mengalami nasib serupa, terpisah dari kelompoknya. Namun kali ini dia bertemu dengan seseorang yang sedang makan buah pepaya. Mereka makan pepaya bersama, dan ketika pergi, si tentara mengucap, "Gedank", terima kasih. Sementara si petani mengira dia mengucap kata berbahasa Belanda untuk 'pepaya'. Jadilah di Jawa Barat, kata 'gedang' dipakai untuk menyebut pepaya, sementara di Jawa Tengah, kata 'gedhang' dipakai untuk menyebut pisang. Sementara di Belanda, tentu saja kata itu bermakna terima kasih. Satu kata, banyak makna.

Kamis, 14 Mei 2009

Cerita Bunga

Tak biasanya aku menulis puisi. Terus terang, aku tak begitu suka. Menggubah kata-kata cantik menjadi barisan kalimat bermakna, tapi tidak dalam susunan yang biasa, wah... itu susah. Apalagi kalau sudah memakai kiasan yang tak biasa (aneh, buatku), misalnya: bulan segi empat di atas kota; perahu emas mimpiku terbang melayang, ah... pusing deh.
Aku lebih suka menulis kisah, merangkai kata menjadi cerita, walau seringkali masih sangat suka kata-kata yang berrima. Kali ini kisah tentang bunga, Pisang-pisangan di rumah kawan. Cantik rupawan indah dipandang. Bunga indah ciptaan Tuhan.

Senin, 11 Mei 2009

Aack Ktaa

Otak manusia bekerja secara luar biasa. itu sudah kita ketahui bersama. Bisa dibuktikan dari naskah berikut ini. Jika Anda bisa membacanya dengan cepat, harus Anda akui kehebatan ciptaan Allah yang melebihi kemampuan komputer buatan manusia ;)
Jkia adna dpaat mbeacanmya, breatri adna mpuemynai piirakn ynag rmuit plua. Tiadk suema onrag daapt macemba nkaash ini (dngean caept plua). Syaa tak daapt mercaympeai bwaha syaa daapt megenrti apa ynag syaa bcaa. Keatakun fenaomenl drai oatk musania, muruent senorag peniteli drai Unisitveras Cridambge, bwhaa tdaik aakn jdai msalaah baimangaa suunsan hruuf dlaam suebah ktaa. Ynag petinng aaldah ktaa pamerta dan tehirakr daalm ktaa tebuerst ada di tpemat ynag taept/serunhasya. Ssia hruuf dpaat sjaa buetl-btuel bntakeraan dan adna dpaat taetp mbecanmaya tnpaa keslitaun barerti. Ini dinakkarean oatk musiana tiadk mbacema huurf stau dmei stau, mnkaelain stau ktaa sareca kseluuhaern. Makjuenbkan bkaun? Ya, dan syaa sellau bekirpir bhwaa eajan itu ptienng! Jkia adna dpaat mbaemca ini (tpana kelitasun), seranlkabah ;)
Hmm… mungkin sedikit lebih rumit daripada teks aslinya dalam bahasa Inggris yang kuterjemahkan secara bebas. Bukannya sok jago berbahasa Inggris, tapi membaca teks berbahasa inggris yang hurufnya diacak terasa lebih mudah dibandingkan dengan membaca teks berbahasa Indonesia. Mungkin karena adanya awalan dan akhiran dalam bahasa Indonesia yang harus jelas susunan hurufnya. Tapi yang jelas, lebih sulit lagi menuliskan kata-kata yang diacak seperti ini :( Lebih mudah menulis dengan kata-kata yang baku sajalah. Oya, berikut ini kutulis juga naskah asli dalam bahasa Inggris yang kuterjemahkan sebagai pembanding.
Got tihs form a firned. Ietrtinsneg, ins't it? Haha...
fi yuo cna raed tihs, yuo hvae a sgtrane mnid too. Cna yuo raed tihs? Olny 55 plepoe can. i cdnuolt blveiee taht I cluod aulaclty uesdnatnrd waht I was rdanieg. The phaonmneal pweor of the hmuan mnid, aoccdrnig to a rscheearch at Cmabrigde Uinervtisy, it dseno't mtaetr in waht oerdr the ltteres in a wrod are, the olny iproamtnt tihng is taht the frsit and lsat ltteer bein the rghit pclae. The rset can be a taotl mses and you can sitll raedit whotuit a pboerlm. Tihs is bcuseae the huamn mnid deos not raed ervey lteter by istlef, but the wrod as a wlohe. Azanmig huh? yaeh and I awlyas tghuhot slpeling was ipmorantt! if you can raed tihs forwrad it.
Blogged with the Flock Browser

Senin, 13 April 2009

KAMUS

Ketika aku masih SMA, dalam sesi pelajaran bahasa Indonesia. Sang guru menanyakan suatu istilah yang tidak diketahui murid-murid. Beliau menyarankan kami untuk membuka KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia. Saat itu belum jadi Kamus Besar Bahasa Indonesia). Rupanya, KUBI pun belum cukup populer di kalangan pelajar SMA -setidaknya teman-teman sekelasku- saat itu. Ketika seorang temanku ditanya singkatan dari apakah KUBI itu? Dia menjawab... "Kuingin Bicara". Wadduh!!
Saat itu aku sudah cukup familiar dengan kamus. Kamus pertama yang kuketahui adalah kamus ayahku, kamus saku Inggris-Indonesia bersampul hijau tua yang cukup tebal dengan tulisan kecil-kecil. Di beberapa tempat, kamus ini diberinya indeks huruf, tak kalah kecil. Indeks itu dibuatnya secara manual, dengan menggunting huruf dari koran, lalu ditempelkan di halaman kamus dengan menggunakan selotip. Praktis, kreatif.
Kamus bahasa Indonesia (yang saat itu masih KUBI), sudah cukup kukenal karena kamus itu tersedia di rumah, milik kakakku, hadiah dari kejuaraan baca puisi atau apaa... begitu. Cukup sering juga aku melihat-lihat tampilan isi dan makna beberapa kata, dan seringkali belajar kata-kata yang baru kudengar atau kubaca secara sambil lalu saat mencari kata tertentu. Mengasyikkan juga.
Kamus Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris susunan Hassan Shadily dan John M. Echols juga cukup kuakrabi karena kegemaranku membaca buku-buku cerita berbahasa Inggris, koleksi perpustakaan British Council yang dulu pernah eksis di Bandung.
Lulus kuliah, aku sempat belajar bahasa Jepang dan jadi cukup akrab dengan kamus Jepang-Indonesia dan Indonesia-Jepang. Kalau tinggal di Jepang, harus bisa juga berbicara dalam bahasa Jepang-lah, kalau tidak mau jadi "bisu-tuli-buta" aksara di sana. Kamus berbentuk buku kurasa tidak cukup praktis, maka akupun beralih ke kamus elektronik yang terasa saaaangat membantu dalam proses belajarku selama di Jepang.
Kubeli kamus elektronik yang masih kugunakan hingga saat ini dengan cara indent (apa sih, indent? pesan dan tunggu?). Edisi spesial nih, karena aku ingin yang berwarna hijau, warna kesukaanku. Jarang tersedia, maka dari itu ketika kudapatkan, aku sayang sekali kamusku.
Saat ini ada lagi kamus 'model baru', bukan sekedar elektronik, tapi kamus online. Praktis sih... tidak perlu bawa-buku tebal ataupun gadget kecil sekalipun. Kalau kebetulan komputer sedang terhubung ke jaringan internet, kapan saja kita mau, silakan klik situs yang menyediakan layanan itu. Macam-macam, tinggal pilih sesuai kebutuhan. Ah... hidup semakin mudah rasanya. Semoga kita pun makin pandai bersyukur atas segala kemudahan ini. Amiin.

Senin, 23 Maret 2009

Kata Pertama

Bahasa menunjukkan Bangsa. Bangsa yang besar tentu mempunyai sejarah kebahasaan yang panjang dan berkesinambungan. Di tengah-tengah era global sekarang ini, di mana batas antarnegara dan budaya menjadi semakin transparan, ingin rasanya menunjukkan diri sebagai seorang Indonesia yang berbudaya. Melalui bahasa, kusampaikan berbagai rasa, sebagai anak bangsa yang cinta budayanya.