Tampilkan postingan dengan label kamus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kamus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2009

Sebuah Analogi

Apa sih analogi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (yang kuunduh secara online), analogi adalah: 1 persamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yg berlainan; kias: 2 Ling kesepadanan antara bentuk bahasa yg menjadi dasar terjadinya bentuk lain; 3 Mik sesuatu yg sama dl bentuk, susunan, atau fungsi, tetapi berlainan asal-usulnya sehingga tidak ada hubungan kekerabatan; 4 Sas kesamaan sebagian ciri antara dua benda atau hal yg dapat dipakai untuk dasar perbandingan;
Untuk jelasnya, sebuah contoh dipaparkan di bawah ini. Menarik juga. ;)
Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan jenggotnya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang cukup hangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur berkata, "Saya tidak percaya Tuhan itu ada".
"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.
"Begini... coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan. Untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, adakah yang sakit?? Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar mlungker-mlungker- istilah jawa-nya", kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata," Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR." Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??". "Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"
"Tidak!" elak si konsumen. "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana", si konsumen menambahkan.
"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur. "Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya." jawab si tukang cukur membela diri.
"Cocok!" kata si konsumen menyetujui." Itulah point utama-nya!
Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa yang terjadi... ? Orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini." Si tukang cukur terbengong !!!!

Senin, 13 April 2009

KAMUS

Ketika aku masih SMA, dalam sesi pelajaran bahasa Indonesia. Sang guru menanyakan suatu istilah yang tidak diketahui murid-murid. Beliau menyarankan kami untuk membuka KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia. Saat itu belum jadi Kamus Besar Bahasa Indonesia). Rupanya, KUBI pun belum cukup populer di kalangan pelajar SMA -setidaknya teman-teman sekelasku- saat itu. Ketika seorang temanku ditanya singkatan dari apakah KUBI itu? Dia menjawab... "Kuingin Bicara". Wadduh!!
Saat itu aku sudah cukup familiar dengan kamus. Kamus pertama yang kuketahui adalah kamus ayahku, kamus saku Inggris-Indonesia bersampul hijau tua yang cukup tebal dengan tulisan kecil-kecil. Di beberapa tempat, kamus ini diberinya indeks huruf, tak kalah kecil. Indeks itu dibuatnya secara manual, dengan menggunting huruf dari koran, lalu ditempelkan di halaman kamus dengan menggunakan selotip. Praktis, kreatif.
Kamus bahasa Indonesia (yang saat itu masih KUBI), sudah cukup kukenal karena kamus itu tersedia di rumah, milik kakakku, hadiah dari kejuaraan baca puisi atau apaa... begitu. Cukup sering juga aku melihat-lihat tampilan isi dan makna beberapa kata, dan seringkali belajar kata-kata yang baru kudengar atau kubaca secara sambil lalu saat mencari kata tertentu. Mengasyikkan juga.
Kamus Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris susunan Hassan Shadily dan John M. Echols juga cukup kuakrabi karena kegemaranku membaca buku-buku cerita berbahasa Inggris, koleksi perpustakaan British Council yang dulu pernah eksis di Bandung.
Lulus kuliah, aku sempat belajar bahasa Jepang dan jadi cukup akrab dengan kamus Jepang-Indonesia dan Indonesia-Jepang. Kalau tinggal di Jepang, harus bisa juga berbicara dalam bahasa Jepang-lah, kalau tidak mau jadi "bisu-tuli-buta" aksara di sana. Kamus berbentuk buku kurasa tidak cukup praktis, maka akupun beralih ke kamus elektronik yang terasa saaaangat membantu dalam proses belajarku selama di Jepang.
Kubeli kamus elektronik yang masih kugunakan hingga saat ini dengan cara indent (apa sih, indent? pesan dan tunggu?). Edisi spesial nih, karena aku ingin yang berwarna hijau, warna kesukaanku. Jarang tersedia, maka dari itu ketika kudapatkan, aku sayang sekali kamusku.
Saat ini ada lagi kamus 'model baru', bukan sekedar elektronik, tapi kamus online. Praktis sih... tidak perlu bawa-buku tebal ataupun gadget kecil sekalipun. Kalau kebetulan komputer sedang terhubung ke jaringan internet, kapan saja kita mau, silakan klik situs yang menyediakan layanan itu. Macam-macam, tinggal pilih sesuai kebutuhan. Ah... hidup semakin mudah rasanya. Semoga kita pun makin pandai bersyukur atas segala kemudahan ini. Amiin.

Sholat, Shalat, atau Salat

Artikel ini kukutip dari rubrik BAHASAKITA di majalah Intisari edisi bulan Mei 2008. Memaparkan secara ilmiah, kaidah penggunaan beberapa kata serapan dari bahasa asing -Arab, tepatnya- yang sudah biasa dipakai. Aku sendiri, lebih suka menulis kata shalat dibandingkan dengan sholat atau salat. Padahal menurut kamus dan PUEYD, itu salah. Begitu juga dengan adzan maghrib. Sudah lebih terbiasa dan lazim, rasanya (atau pertanda keras kepala semata? :p)

Sholat, Shalat, atau Salat?
Penulis: Dra. Dad Murniah, M.Hum
Kepala Subbid Informasi dan Publikasi Pusat Bahasa, Depdiknas

Sering kita menemukan kata salat dituliskan secara berbeda: shalat atau sholat. Padahal, sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD), penulisan yang benar adalah salat.
Suatu kata yang telah menjadi warga kosakata bahasa Indonesia ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang ada yaitu PUEYD. Tak terkecuali kata yang berasal dari Arab. Tetapi suatu kata Arab yang belum menjadi warga kosakata bahasa seyogyanya ditulis mengikuti Pedoman Transliterasi Arab-Latin.
Bukankah kata salat yang berasal dari bahasa Arab itu telah menjadi warga kosakata bahasa Indonesia? Kata itu telah dikenal secara luas dan tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam PUEYD, hanya empat satuan bunyi yang dilambangkan dengan dua hurufm yaitu kh, sy, ng, dan ny.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana kelaziman mengeja kata serapan dari bahasa Arab yang mengandung huruf hijaiyah sad? Penulisan hata-kata serapan semacam itu telah ditetapkan dan diberlakukan secara taat asas. Kata sahabat, misalnya, tidah ditulis shahabat. Begitu juga dengan musibah, nasihat, maksud, kisah atau maksiat, tidak ditulis mushibah, nashihat, maqshud, qishah, atau ma'shiat.
Sejumlah contoh kata serapan dari bahasa Arab tersebut menunjukkan bahwa huruf sad menjadi s dalam bahasa Indonesia.
Ada lagi kata serapan dari bahasa Arab yang ditulis secara tidak tepat. Misalnya azan magrib ditulis adzan maghrib. Padahal dua kata itu telah biasa dipakai dalam kegiatan berbahasa sehari-hari. Tentu saja ia harus tunduk pada kaidah penulisan kata serapan yang ada. Konsonan dz dan gh tidak terdapat dalam sistem ejaan bahasa Indonesia.
Di dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata yang berasal dari bahasa Arab yang mengandung huruf zal dan gain. Misalnya zat, zikir, uzur, gaib, gairah, atau logat. Kata-kata itu seharusnya tidak ditulis dzat, dzikir, udzur, ghaib, ghairah, atau loghat. Di dalam kaidah ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan, huruf zal dari bahasa Arab menjadi z di dalam bahasa Indonesia dan gain menjadi g.
Memang dalam PUEYD disebutkan bahwa ejaan kata yang berasal dari bahasa asing (termasuk Arab tentunya) hanya diubah seperlunya. Hal ini dimaksudkan agar ejaannya dalam bahasa Indonesia masih dapat dibandingkan dengan ejaan dalam bahasa asalnya.
Kalau kita bandingkan antara lafal lambang bunyi bahasa Arab dan lafal lambang bunyi bahasa Indonesia, kita melihat adanya perbedaan-perbedaan yang cukup besar. Upaya terbaik untuk mengatasi hal itu dalam pengindonesiaan kata bahasa Arab ialah mencarikan lambang bunyi yang paling dekat dengan lafal lambang bunyi serupa dalam bahasa Arab.
Namun patut diingat, unsur bahasa Arab yang diserap ke dalam bahasa Indonesia harus mempertajam daya ungkap. Ia juga harus memungkinkan orang menyatakan makna konsep atau gagasan secara tepat. Penyerapan unsur bahasa Arab itu perlu dilakukan secara selektif. Kata serapan itu arus mampu mengisi kerumpangan konsep dalam khazanah bahasa Indonesia. kata itu memang dibutuhkan dalam bahasa Indonesia untuk kepentingan pemerkayaan daya ungkap mengiringi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Memang, dalam perkembangannya bahasa Indonesia tidak terlepas dari pengaruh bahasa asing, termasuk bahasa Arab. Tentu saja pengaruh itu di satu sisi dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia, tetapi di sisi lain bisa saja mengganggu kaidah tata bahasa kita. Tetapi kita tak perlu terlalu risau dan curiga, bukan?

Minggu, 05 April 2009

Contreng, Conteng, Centang, Centong

Besok mulai memasuki masa tenang sebelum pemilu tanggal 9 nanti. Setelah puluhan partai jor-joran berkampanye dengan berbagai cara dan kreativitas, aman maupun membahayakan, jujur ataupun curang, sekarang saatnya warga memilih yang terbaik. Memilih wakil rakyat, menentukan pilihan di bilik suara untuk kemajuan bangsa yang hingga saat ini masih belajar berdemokrasi.
Tahun ini sistem pemilu mengalami sedikit penyesuaian lagi. Setelah 'sukses' dengan sistem pemilihan langsung, kali ini kata 'coblos' tidak lagi populer. Yang sedang in saat ini adalah 'contreng'. Eits! Seorang teman yang kuliah di pascasarjana bahasa Unpad menyatakan bahwa kata itu tidak terdata di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata yang tercantum di sana adalah 'conteng'. Lho, bukan 'centang'? tanyaku kemudian. Rasanya aku sudah cukup sering mendengar kata 'centang' untuk sebuah tanda yang cukup familiar menyerupai huruf V itu selama 10 tahun lebih 'karirku' di dunia pendidikan. Jie... karier... ;) Jadi, yang benar itu sebetulnya apa sih? Contreng? Conteng? Centang? Atau malah centong? Ah... centong sih alat yang mengakibatkan luka di kepala Sangkuriang ya? :p

Blogged with the Flock Browser