Jumat, 10 Desember 2010
Mari Cinta Membaca
Rabu, 24 Juni 2009
Etika Bertelepon
Sekalipun Anda bukan operator telepon, Anda tentu perlu tahu aturan atau etika dalam bertelepon ini. Karena apapun pekerjaan Anda, pasti tak akan lepas dari benda yang satu ini. Berikut ini panduan etika berbicara di telepon, baik saat menelepon, maupun menerima panggilan telepon. Kusarikan dari beberapa artikel yang kudapat dari beberapa situs di dunia maya.
1. Segera angkat gagang telepon sebelum telepon berdering untuk yang ke 3 kalinya.2. Jangan mengganggap bahwa panggilan telepon merupakan gangguan pekerjaan Anda.
3. Berhati-hati agar nada kesal tidak terdengar pada lawan bicara Anda.
4. Jawablah telepon dengan menyebutkan indentitas Anda, sesuai kebijakan pimpinan.
5. Segera tanyakan dengan siapa Anda berbicara dan tanyakan apa keperluannya.
6. Pada waktu Anda menerima telepon, kata-kata yang diucapkan harus jelas, berilah penekanan pada kata-kata secara beruntun.
7. Batasi pembicaraan di telepon secara pribadi karena urusan pribadi di kantor sangat tidak menyenangkan bagi siapapun yang mendengarkan.
8. Apabila pimpinan Anda tidak berada di kantor, tidak perlu memberi tahukan keberadaan pimpinan Anda kepada si penelepon.
9. Apabila Anda menerima telepon untuk pimpinan, tanyakan dulu pada pimpinan apakah beliau bersedia menerima telepon atau tidak.
10. Apabila pimpinan Anda sedang berada di kantor tetapi sedang melakukan pembicaraan di telepon dengan orang lain, sedangkan ada telepon lain untuk pimpinan, tanyakan kepada penelepon untuk menunggu (apabila penelepon lebih memilih menunggu, jangan biarkan penelepon menunggu lebih dari 2 menit ) atau tanyakan apabila penelepon bersedia menelepon kembali.
Sabtu, 28 Maret 2009
Anak-anak Bilingual
Perkenalan pertamaku dengan anak-anak bilingual dimulai dari tiga bersaudara pindahan dari Australia. Sang kakak sulung bersekolah di SMP, sedangkan adiknya yang perempuan bersekolah di kelas 4, dan si bungsu yang laki-laki di kelas 1. Sebagai anak dari pernikahan campuran, wajah mereka cantik dan tampan. Kemampuan berkomunikasi mereka? Nyaris 100% berbahasa Inggris. Ibu mereka, sebagai warga Negara Indonesia tentu masih bisa berbahasa Indonesia –walaupun sudah terwarnai oleh logat asing-, sedangkan ketiga bersaudara itu, ah… sulit sekali menyampaikan pelajaran kepada mereka dalam bahasa Indonesia. Hanya satu-dua kata yang mereka pahami dalam bahasa Indonesia. Bayangkan… jika kita harus mengajarkan mata pelajaran IPA dengan berbagai istilah yang berbeda dalam bahasa Indonesia dan Inggris, bagaimana sulitnya? Walaupun aku… bisalah berbahasa Inggris, tetap sulit menyampaikan materi pelajaran kepadanya. Akupun terbawa bilingual, menterjemahkan setiap kalimat ke dalam bahasa Inggris untuknya.Osha yang masuk ke kelas 4 di mana aku adalah wali kelasnya. Dia baru datang dari Jerman, mengikuti ayahnya yang pulang kampung ke Indonesia setelah bertugas lama di sana. Mereka adalah keluarga Sunda yang sehari-harinya berbahasa Jerman saja atau dicampur dengan sedikit bahasa Sunda dan sedikit bahasa Indonesia. Nah… ketika dia kembali ke Indonesia, sulitlah kita berkomunikasi dengannya. Diajak bahasa Inggris tidak bisa, dibawa berbahasa Indonesia pun tak nyambung. Masa mau pakai bahasa Sunda? Aku tak pandai pula.
Ada pula Hanan dan Nada yang tinggal cukup lama di Amerika, dan tentu saja sangat menguasai bahasa Inggris. Tapi untungnya, ayah dan ibu mereka masih menggunakan bahasa Indonesia, sehingga mereka tak lupa bahasa ibu (dan ayahnya). Mereka terlihat cukup terganggu dengan sedikit gegar budaya dan bahasa ketika kembali ke Indonesia setelah 5 tahun di negeri Paman Sam, namun mereka cepat menyesuaikan diri, hingga meraih prestasi yang cukup tinggi di kemudian hari. Hanan hampir lulus dari jurusan Hubungan Internasional, sementara Nada masih jadi mahasiswa fakultas Kedokteran di salah satu universitas terkemuka di Bandung.
Selain mereka, ada pula Daichi yang beribukan seorang berkebangsaan Jepang. Dia masih berbahasa Jepang dengan ibunya, tapi kemampuan berbahasa Indonesianya cukup baik. Sayang, hanya satu tahun lebih sedikit, Daichi di Indonesia. Selanjutnya, dia pindah ke Jepang lagi, dan sudah banyak lupa berbahasa Indonesia. Maklumlah… Negara Jepang memiliki tradisi kuat untuk melestarikan bahasa dan budayanya. Tak ada ruang untuk anak-anak asing di sekolah mereka, kecuali anak-anak itu mau beradaptasi danmenggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa sehari-hari.
Di sekolah tempatku mengajar sekarang ini, ada pula dua kakak beradik yang ikut orangtuanya tinggal di Australia beberapa tahun. Bahasa lisan mereka sangat diwarnai bahasa Inggris. Awalnya sulit berkomunikasi dengan mereka dalam bahasa Indonesia. Kupikir, tentulah nilai bahasa Inggris mereka akan jadi yang terbaik di kelasnya. Ternyata, tidak demikian adanya. Mereka mungkin teramat pandai berbahasa Inggris lisan, tapi wawasan kebahasaan tidak semata dalam bentuk lisan, bukan? Ada pemahaman wacana yang terkait dengan kemampuan menulis dan ketatabahasaan, juga kemampuan dengar, selain keahlian berbicara. Jadi, yang berbahasa Inggris aktif, ternyata belum tentu paling hebat juga, bahkan dalam pelajaran bahasa Inggris sekalipun.
Teringat satu sesi dalam pelatihan yang pernah kuikuti. Pernyataan sang narasumber sebagai berikut, “Anak-anak yang bisa dua bahasa, disebut bilingual. Anak-anak yang bisa tiga bahasa, disebut trilingual. Anak-anak yang bisa berbagai bahasa, disebut multilingual. Sedangkan orang-orang yang bisa satu bahasa saja (Inggris), disebut American.” katanya. Haha… Ada benarnya juga kali ya? ;)
Kamis, 26 Maret 2009
Berbangga dengan Bahasa Kita
Satu setengah tahun aku tinggal di negara tetangga, Jepang, tempat aku menjalani kegiatan sebagai peserta program penataran guru di Universitas Gunma. Awalnya, aku begitu percaya diri bahwa dengan kemampuan berbahasa Inggrisku, aku bisa hidup nyaman di Jepang, tanpa perlu menguasai bahasa mereka. Kupikir, negara jepang toh termasuk negara maju yang berbagai produknya -terutama produk elektronik- telah sukses diekspor ke mana-mana. Warga negaranya, tentulah juga menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa dunia. Tapi... rupanya aku harus kecewa, karena di Gunma, bahasa Inggris nyaris tak ada gunanya.Hari-hari pertamaku di sana kupakai untuk berkeliling di daerah sekitar, bersama seorang teman warga Tunisia yang pandai berbahasa Inggris. Tanya sana-tanya sini, ternyata hampir semua tetangga tak bisa berbahasa Inggris. Jawaban mereka ketika kutanya, rata-rata sama, "dame", sambil menyilangkan tangan di depan dada, seolah bahasa Inggris adalah bahasa terlarang untuk mereka.
Sejak saat itu, kubulatkan tekad untuk mempelajari bahasa dan budaya Jepang -setidaknya, saat aku tinggal di sana. Tidak mudah memang, mempelajari bahasa baru dengan lambang bahasa yang sangat banyak untuk dihafal, dengan kemampuan otak yang uhh... rasanya semakin lamban saja nih, seiring pertambahan usia. Tapi kuingat satu peribahasa, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Menguatkan semangatku lagi. Ayo, belajar lagi!
Semakin lama tinggal di Jepang, semakin kusadari bahwa mereka sangat menjunjung tinggi bahasa dan budayanya. Sebagai mahasiswa asing, aku tentu memerlukan berbagai referensi sebagai bahan penunjang kuliah singkatku di sana, tapi sungguh sulit menemukan buku-buku berbahasa Inggris yang sesuai dengan keperluanku. Memang ada beberapa referensi yang kelihatannya sesuai, tapi ternyata buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Sedangkan kemampuan membacaku dalam bahasa Jepang, masih setara dengan siswa sekolah dasar saja. Mau menangis rasanya.
Berkaca dari pengalaman di masa itu, aku berpikir tentang bahasa dan budayaku sendiri. Rasanya, sebagian warga Indonesia masih lebih suka -dan merasa lebih hebat- jika pandai berbahasa asing, Inggris khususnya. Kuakui, hal itu akan jadi kemampuan tambahan bagi orang-orang tertentu, tapi siapa lagi yang akan mencintai bahasa dan budaya kita, jika bukan kita sendiri, warga negara Indonesia?
Satu fenomena, tentang buku-buku literatur saja. Jika banyak literatur asing diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bukankah akan sangat banyak orang yang diuntungkan darinya? Penterjemah akan kebanjiran pekerjaan. Penerbit ikut merasakan hasilnya (dan mungkin pembajak buku juga :p). Penjual buku? Sudah tentu. Pembaca pun akan semakin pintar berbahasa Indonesia. Jika sedemikian panjang rantai keuntungan yang dihasilkan dari penggunaan bahasa Indonesia, rasanya kita perlu berbangga juga, bukan, karena memberi sedikit kontribusi pada pelestarian bahasa kita. Aku sudah tentu berbangga. Anda?
Senin, 23 Maret 2009
Dyper Change
Foto ini kuambil di salah satu toilet yang bergabung dengan mushala wanita di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar di Bandung, Cihampelas Walk.Toiletnya bersih, tidak berbau, malah relatif wangi. Mushalanya pun resik, dengan mukena yang bersih, dijanjikan dicuci setiap hari. Kelihatannya terbukti.
Tulisan di dinding dalam tempat wudhu yang bergabung dengan wastafel yang kuabadikan dalam foto ini, sudah menempel cukup lama dan masih tetap terpasang di sana, dengan kesalahan penggunaan bahasa yang nyata. Berniat mengadopsi budaya dan bahasa asing, tulisan di dinding toilet di lantai satu sayap kanan itu ternyata memuat kesalahan yang menggelikan.
Dyper Change? Bukankah seharusnya kata tersebut dieja "Diaper". Pengucapannya memang sama, tapi artinya? Dyper... setelah kucari di kamus pun, kata itu tak terdata. Tapi... Mengapa tidak memakai bahasa Indonesia saja? Tempat Mengganti Popok. Relatif panjang sih, tapi bukankah lebih tepat sasaran?
Kata Pertama
Bahasa menunjukkan Bangsa. Bangsa yang besar tentu mempunyai sejarah kebahasaan yang panjang dan berkesinambungan. Di tengah-tengah era global sekarang ini, di mana batas antarnegara dan budaya menjadi semakin transparan, ingin rasanya menunjukkan diri sebagai seorang Indonesia yang berbudaya. Melalui bahasa, kusampaikan berbagai rasa, sebagai anak bangsa yang cinta budayanya.