Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2009

Lelucon Universal

Pernahkah mendengar humor tentang gajah dan jerapah dalam kulkas berikut ini?
Tanya: Bagaimana cara memasukkan gajah ke dalam kulkas?
Sonya: (???) Tak mungkinlah...

Tanya: Bisa saja. Buka pintu kulkas, masukkan gajahnya, lalu tutup pintu kulkas.

Sonya: Bisa-bisanya kamu aja tuh...

Tanya: Ayo... sekarang bagaimana caranya memasukan jerapah ke dalam kulkas?

Sonya: Ya gampang. Buka pintu kulkas, masukkan jerapah, tutup pintu kulkas.

Tanya: Salah.
Sonya: Lho, apanya yang salah?

Tanya: Tidak akan muat-lah...
Seharusnya, buka pintu kulkas, keluarkan gajahnya, masukkan jerapahnya, lalu tutup pintunya.
Sonya: Wah... beneran nih, bisa-bisanya kamu aja.

Rupanya, lelucon di atas merupakan lelucon universal yang juga bisa ditemui di negara lain, hanya tinggal menterjemahkan ke bahasa lain tersebut. Hal ini aku alami ketika aku berada di Jepang. Dalam sebuah kesempatan perjalanan wisata, pemandu wisata di dalam bus mengisi waktu dengan sesi teka-teki. Salah satu pertanyaan yang dia ajukan adalah "prosedur" memasukkan gajah ke dalam kulkas. Aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan sukses!!! ;) Belum lama ini, kucari lelucon ini melalui mesin pencari google, dan kutemukan beberapa sumber berbahasa Inggris. Gajah dan Jerapah dalam kulkas ini ternyata memang lelucon universal. ;)

Rabu, 15 April 2009

Kisah Sebuah Kota di Gunma

Salah satu kota yang menarik perhatianku di Jepang adalah kota Oizumi, sebuah kecil di sebelah utara Gunma. Di kota ini terdapat komunitas orang asing yang cukup besar, terutama warga negara imigran dari Brazil atau Peru. Dengan demikian, bahasa kedua di kota ini adalah bahasa Portugis atau Spanyol. Balai kota memiliki penterjemah resmi yang menguasai kedua bahasa tersebut. Penduduknya pun dengan nyaman bisa hidup di sana walaupun mereka tidak cukup mengerti bahasa Jepang, karena tetangga sebelah menyebelah, berbagai toko dan kantor dikelola oleh orang-orang dari negara mereka. Bahkan petunjuk jalan pun ditulis dalam 2 bahasa, Jepang dan Portugis, bukan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Wow... Orang-orang Peru yang berbahasa Spanyol sebagai bahasa ibu pun tidak merasa kesulitan karena kedekatan rumpun bahasa Spanyol dengan bahasa Portugis, sehingga mereka dapat mengerti petunjuk yang disediakan dalam bahasa Portugis (Seperti kedekatan rumpun bahasa Melayu yang dipakai di Malaysia dengan bahasa Indonesia).
Sensei pembimbingku ketika di sana mempunyai proyek binaan di kota tersebut, yang melibatkan tim kerja mahasiswanya untuk berkunjung ke kota tersebut pada saat-saat tertentu, biasanya untuk penyelenggaraan kegiatan pendukung untuk warga negara asing di sana.
Aku dan Claudia menjadi 2 orang asing dalam tim pimpinan sensei tersebut. Claudia adalah seorang psikolog keturunan Jepang dari yang juga hanya paham bahasa percakapan sederhana. Kadang kami frustrasi mendengarkan penjelasan sensei secara panjang-lebar dalam bahasa Jepang tanpa bisa mengerti keseluruhan isi pembicaraannya. Dengan dia (Claudia), aku bisa saling curhat ketika menjalani tugas bersama dari sensei. Kebetulan pula, kami sering diberi tugas bersama untuk berkunjung ke kota Oizumi, wilayah yang cukup padat dengan pendatang dari Amerika Selatan, objek penelitian sensei kami. Kadangkala, kami diberi tugas yang tidak kami pahami maksudnya karena ketiadaan kaitan antara kegiatan tersebut dengan program penelitian kami. Dalam hal ini, tema school culture yang ingin kupelajari hanya jadi framework yang buram dan mengawang-awang. Bersama Claudia, kami saling curhat karena ‘frustrasi’ dengan tugas yang Sensei berikan. Bingung karena tidak tahu cara menyampaikan harapan dan keinginan kami, juga menanyakan tujuan penugasan tersebut, terutama dengan keterbatasan kosa kata yang kami miliki. Frustrasi deh.
Tapi saat berada di kota Oizumi, Claudia merasa terhibur karena banyaknya pendatang yang juga berasal dari Brazil, dan dengan mereka dia bisa dengan bebasnya bercerita tentang segala macam, tanpa dibatasi oleh kendala bahasa. Duh… sempat iri juga, tapi bukankah iri hanya pertanda ketidakmapuan? Ah… sedikit demi sedikit, aku berhasil menyisihkan rasa iri dari dalam hatiku.
Berkaca dari pengalaman di masa itu, aku membandingkannya dengan kondisi di Indonesia saat ini. Jangankan terjemahan ke bahasa Inggris. Terkadang nama tempat di Indonesia sesukanya mencantumkan bahasa Inggris saja, seakan tidak ada kebanggaan sedikitpun pada bahasa ibunya. Sayang sekali.

Kamis, 26 Maret 2009

Berbangga dengan Bahasa Kita

Satu setengah tahun aku tinggal di negara tetangga, Jepang, tempat aku menjalani kegiatan sebagai peserta program penataran guru di Universitas Gunma. Awalnya, aku begitu percaya diri bahwa dengan kemampuan berbahasa Inggrisku, aku bisa hidup nyaman di Jepang, tanpa perlu menguasai bahasa mereka. Kupikir, negara jepang toh termasuk negara maju yang berbagai produknya -terutama produk elektronik- telah sukses diekspor ke mana-mana. Warga negaranya, tentulah juga menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa dunia. Tapi... rupanya aku harus kecewa, karena di Gunma, bahasa Inggris nyaris tak ada gunanya.

Hari-hari pertamaku di sana kupakai untuk berkeliling di daerah sekitar, bersama seorang teman warga Tunisia yang pandai berbahasa Inggris. Tanya sana-tanya sini, ternyata hampir semua tetangga tak bisa berbahasa Inggris. Jawaban mereka ketika kutanya, rata-rata sama, "dame", sambil menyilangkan tangan di depan dada, seolah bahasa Inggris adalah bahasa terlarang untuk mereka.

Sejak saat itu, kubulatkan tekad untuk mempelajari bahasa dan budaya Jepang -setidaknya, saat aku tinggal di sana. Tidak mudah memang, mempelajari bahasa baru dengan lambang bahasa yang sangat banyak untuk dihafal, dengan kemampuan otak yang uhh... rasanya semakin lamban saja nih, seiring pertambahan usia. Tapi kuingat satu peribahasa, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Menguatkan semangatku lagi. Ayo, belajar lagi!

Semakin lama tinggal di Jepang, semakin kusadari bahwa mereka sangat menjunjung tinggi bahasa dan budayanya. Sebagai mahasiswa asing, aku tentu memerlukan berbagai referensi sebagai bahan penunjang kuliah singkatku di sana, tapi sungguh sulit menemukan buku-buku berbahasa Inggris yang sesuai dengan keperluanku. Memang ada beberapa referensi yang kelihatannya sesuai, tapi ternyata buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Sedangkan kemampuan membacaku dalam bahasa Jepang, masih setara dengan siswa sekolah dasar saja. Mau menangis rasanya.

Berkaca dari pengalaman di masa itu, aku berpikir tentang bahasa dan budayaku sendiri. Rasanya, sebagian warga Indonesia masih lebih suka -dan merasa lebih hebat- jika pandai berbahasa asing, Inggris khususnya. Kuakui, hal itu akan jadi kemampuan tambahan bagi orang-orang tertentu, tapi siapa lagi yang akan mencintai bahasa dan budaya kita, jika bukan kita sendiri, warga negara Indonesia?

Satu fenomena, tentang buku-buku literatur saja. Jika banyak literatur asing diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bukankah akan sangat banyak orang yang diuntungkan darinya? Penterjemah akan kebanjiran pekerjaan. Penerbit ikut merasakan hasilnya (dan mungkin pembajak buku juga :p). Penjual buku? Sudah tentu. Pembaca pun akan semakin pintar berbahasa Indonesia. Jika sedemikian panjang rantai keuntungan yang dihasilkan dari penggunaan bahasa Indonesia, rasanya kita perlu berbangga juga, bukan, karena memberi sedikit kontribusi pada pelestarian bahasa kita. Aku sudah tentu berbangga. Anda?