Tampilkan postingan dengan label lagu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lagu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2009

Meraih Mimpi

Akhir September lalu, aku dan seorang teman berjanji untuk Meraih Mimpi bersama-sama. Maksudnya, mau menonton film animasi karya Nia Dinata ini di teater XXI CiWalk.
Setelah makan pagi yang terlambat dari rumah, aku pergi ke rumah Intan dulu. Menjemputnya sebelum kemudian berangkat bareng ke lokasi. Jalanan tidak terlalu padat, dan kami bisa sampai cukup cepat ke area Cihampelas. Di jalan Cihampelas itulah laju kendaraan padat merayap. Kendaraan dari atas (Ciumbuleuit dan Dago) ataupun Cipaganti, berbaur di Cihampelas. Kendaraan yang menuju gerbang tol Pasteur, ataupun yang masih ingin berlama-lama di Bandung dan menjajal area CiWalk, campur baur di sana.
Seperti sudah diprediksi, CiWalk ramai. Mencari slot parkir jadi susah sekali. Aku harus berputar naik berkali-kali hingga lantai tertinggi. Agak ngeri juga setiap kali mendaki landasan terjal menuju lantai berikutnya. Akan kuatkah katana kecilku? Jangan dulu memikirkan turunnya deh. Udah ngeri duluan. Tapi... rupanya kengerian itu terbayar dengan pemandangan indah dari atas gedung CiWalk. Di kejauhan nampak jembatan layang Pasupati yang gagah. Indah.
Aku dan Intan masuk di antrian pendek untuk mendapatkan tiket bioskop di teater 2 untuk film Meraih Mimpi. Dapat barisan paling belakang di sayap kiri. Lokasi yang cukup strategis, menurutku.
Kami pun menikmati tayangan film itu sambil menahan lapar gara-gara belum sempat makan siang. Tak kunikmati betul, sebetulnya. Mungkin karena lapar (hehe...), aku jadi ekstra kritis terhadap apa yang kulihat dan kudengar. Begitu banyak taburan bintang Indonesia yang terlibat di dalam proses produksi film itu, kurasa malah membuatnya jadi tidak fokus. Cut Mini sebagai Kakatu kurasa bermain apik. Logat melayu-nya masih sangat kental terdengar, tapi tetap menyenangkan untuk didengar. Penggambaran Gita Gutawa sebagai Dana si gadis desa dengan celana pendek birunya, kurasa tidak cukup membumi. Kurang meng-Indonesia, rasanya. Patton si idola cilik sebagai Rai, adiknya Dana, yang digambarkan suka kungfu, hm... lucu juga sih. Di beberapa scene-nya kok ya jadi seperti Kungfu Panda ya. Terlihat agak berlebihan atau dileih-lebihkan, tapi masih OK-lah.
Komunitas binatang di hutan sekitar, ini juga kurasa kurang tergarap dengan apik. Begitu banyak binatang dengan logat bahasa lokal yang tergabung di sana. Ada monyet berlogat Sunda, kancil berlidah Cina, bunglon dengan logat Jawa yang kental, sementara Kakatu konsisten dengan logat melayunya. Padahal mereka tinggal di hutan yang sama. Terasa sedikit janggal.
Mencermati gambar animasi sepanjang film ini, kupikir animator Indonesia yang terlibat boleh diberi applause untuk penyemangat kerja mereka. Belum bisa dibandingkan dengan animasi karya Disney atau Pixar sih. Masih jauh rasanya, tapi sudah cukup lumayan-lah. Gerak bibir para pemeran kadang tidak sinkron dengan kata-kata yang diucapkannya. Tapi sejauh ini, film itu masih bisa kuberi dua bintang deh.
Sementara itu, Gita Gutawa masih bisa mendapat poin tambahan ketika dia menyanyikan themesong untuk film ini. Cantik betul. Suaranya yang jernih, artikulasi yang pas dengan nada yang tepat membuat film ini semakin cantik. Lagi-lagi, jadi teringat film yang lain sebagai pembanding, dan film Meraih Mimpi ini kalah lagi. Petualangan Sherina dengan lagu-lagu cantiknya menurutku masih lebih bagus. Tapi sejauh ini, sejarah perfilman Indonesia sudah mencatat karya-karya besar anak bangsa yang membanggakan. Di masa depan, pasti akan ada film Indonesia yang lebih spektakuler dan mengguncang sejarah (karena bagusnya). Dan aku yakin, itu tidak akan lama lagi. Kami akan meraih mimpi-mimpi kami yang lain, untuk membangun kejayaan film Indonesia di mata dunia. Insya Allah.

Senin, 19 Oktober 2009

Karya Siapa...?

Sebuah iklan koran, cukup besar, menempati seperempat halaman surat kabar Republika yang biasa kubaca di rumah, cukup menyita perhatianku. Iklan kode RBT dari beberapa lagu yang memenangkan lomba cipta lagu muslim yang diselenggarakan Republika & Esia beberapa waktu yang lalu. Aku sempat nyaris ikut serta dalam lomba itu tahun ini, tapi batal. Salah seorang kenalanku ikut serta dan jadi salah satu juaranya.
Kutelusuri judul dan nama-nama yang tertera di iklan itu. Tak ada nama temanku di sana. Hanya ada nama penyanyi, judul lagu, dan nomor kode RBT yang bisa diunduh untuk nada dering ponsel kita. Hey hey... ke mana nama pencipta lagunya, orang di balik layar yang justru berperan besar hingga lagu tersebut ada? Mengapa justru nama penyanyinya yang dimunculkan, bukan penciptanya?
Hhh... mana penghargaan untuk hasil karya cipta seorang seniman musik? Setelah lagu tercipta, nama mereka tenggelam begitu saja. Justru penyanyi yang notabene hanya meniru tanpa melalui proses kreatif yang sulit, nama mereka malah bergaung lebih keras, hanya dengan gaya dan tingkah polah ke-artis-an mereka. Jangan heran jika kelak lagu-lagu akan dilabeli "NN" alias no name karena tak dikenali lagi penciptanya. Padahal mereka itulah yang membuat semarak dunia musik kita. Jangan heran juga jika kelak karya lagu musisi Indonesia akan dengan mudah di-transfer dan diakui oleh musisi dari negara lain, karena tak dikenalinya sang pencipta lagu. Ke mana penghargaan kita atas kekayaan intelektual ini? Sudah saatnya kita lebih menghargai pencipta lagu tinimbang sang penyanyi. Setuju-kah...?

Sabtu, 02 Mei 2009

Laskar Pelangi

Embedded Video

Blogged with the Flock Browser

Film yang teramat bagus! Setara dengan bukunya, bahkan di beberapa tempat lebih bagus dari yang bisa digambarkan oleh narasi dalam buku. Lucu, haru, seru, banyak perasaan bercampur jadi satu.
Didukung orang-orang hebat di belakang layar, film ini mendapat beberapa penghargaan di beberapa ajang festival film. Sang penulis novel, Andrea hirata; Produser yang jeli melihat potensi, Mira Lesmana; Riri Riza sang sutradara, Cut Mini sang pemeran utama yang memainkan karakter bu Muslimah dengan begitu baik, hingga anak-anak Belitung yang telah sangat berhasil menghidupkan karakter Ikal, Mahar dan Lintang. Bravo untuk Zulfanny, Ferrys Yamarno dan Ferdian. Tak ketinggalan, semua kru yang terlibat di film ini. Karena kalianlah, film ini tercipta begitu indah. Semoga dapat menebar inspirasi dan menumbuhkan semangat untuk memperjuangkan mimpi-mimpi kita.

Selasa, 21 April 2009

Ken Lee

Mari simak, apa yang bisa terjadi jika kita hanya mendengar tanpa mempelajari lebih jauh kebenaran ucap dan makna bahasa tertentu. Contoh ini terjadi di event music idol di Bulgaria. Menarik juga untuk disimak, dan saya yakin... di Indonesia pun ada beberapa 'kasus' serupa ;)

Embedded Video

Blogged with the Flock Browser

Jumat, 03 April 2009

Bunga Kaktus

Cantiknya bunga, selalu membuatku terpesona. Termasuk yang satu ini, bunga yang mekar di malam hari, bunga kaktus raksasa (wah... mungkin aku terlalu bombastis ya dengan mengatakannya raksasa, tapi bunganya memang besar, sebesar piring makan orang dewasa.) Bunga yang bersepupu dengan Wijayakusuma ini sudah membuatku terpesona sejak dia pertama kali mekar, beberapa waktu yang lalu. Setelah itu, batang kaktus ini rajin sekali berbunga. Sayang, dia mekar di malam hari, sehingga kadang momen indah itu terlewatkan. Kusempatkan mengambil gambarnya di pagi hari, saat dia mulai layu kembali. Betul-betul serupa sifatnya dengan sang sepupu (Wijayakusuma tea...). Jadi ingat lagu tentang bunga itu.
Tumbuhmu, di pojok halaman
Seolah kau tak diperhatikan
Mekarmu di keheningan malam
Selalu dinantikan
Mekar mekar bungaku mekar
Bunga Wijayakusuma-ku
Lagu yang sederhana. Nadanya mudah dinyanyikan, kata-katanya mudah diingat, dan sangat tepat menggambarkan keadaan sang bunga. Entah siapa penggubah lagu ini. Anonim. Lagu ini sudah kuketahui sejak masa kanakku dulu, dan masih kuingat hingga saat ini. Sayang, tak diketahui siapa orang di balik lagu ini. Bisa-bisa, diklaim oleh seseorang tertentu sebagai hasil karyanya. Rawan plagiarisme nih. Sudah jelas penciptanya saja kadang orang-orang masih sesukanya mengganti lirik lagu dan mengklaimnya sebagai lagu sendiri. Padahal, bagi sebagian orang, mengarang lagu itu tidak semudah menyanyikannya. Menyanyi itu gampang. Tapi menggubah lagu memerlukan kepekaan bermusik, kepekaan nada, kemampuan merangkai kata menjadi lirik lagu, wah... pada intinya menggubah lagu itu tidak mudah. Jadi... ayo kita hargai karya cipta orang lain, sebagai bentuk penghargaan kepada salah satu aspek intelektual. Dan kita hargai karya cipta Allah yang Agung dengan menikmati keindahan yang tersedia begitu banyak di alam. Semoga kita termasuk orang yang pandai bersyukur. Amiin.

Senin, 30 Maret 2009

I'm Sorry Goodbye

sebelum bertemu denganmu hidupku bahagia
semenjak bertemu denganmu ku makin bahagia
semakin lama aku semakin tahu tentang engkau
sedikit kecewa ternyata engkau tak baik

pertama-tama semua manis yg engkau berikan
membuat aku merasakan cinta sebenarnya
semakin hari semakin terungkap yg sesungguhnya
ku makin kecewa ternyata kau penuh dusta

reff:
maafkan ku harus pergi
ku tak suka dengan ini
aku tak bodoh
seperti kekasihmu yg lain

terima kasih oh Tuhan
tunjukkan siapa dia
maaf kita putus
so thank you so much I’m sorry, goodbye

seribu cara kau membuaiku dengan puitis
maybe kau lupa bahwa aku pun juga manusia
yg punya mata, punya hati, dan perasaan
maaf aku pergi dan takkan untukmu lagi

repeat reff

Terima Kasih, Selamat Tinggal

Embedded Video

Blogged with the Flock Browser

Aku selalu suka Krisdayanti. Kekuatan suaranya, keindahan kualitas vokalnya, kejelasan artikulasinya, juga kualitas lagu-lagunya. Hanya yang satu ini yang kurasa agak aneh. Sedikit menyisipkan kata-kata berbahasa Inggris di antara liriknya. Padahal masih bisa pakai bahasa Indonesia, lho. Jumlah suku katanya tepat. Baik di judul maupun akhir bait refrain lagu ini. I'm sorry good bye = terima kasih, selamat tinggal. Sama kan? Juga ada sedikiiit, satu kata, di bait ke-3. Ada kata maybe di situ, yang sangat mungkin -tidak pula mengubah melodi, juga tidak mengubah arti- diganti dengan kata mungkin. Mengapa tidak disempurnakan dalam bahasa Indonesia saja?
Mungkin terasa lebih 'gaya' jika menyisipkan satu-dua bahasa asing di dalam lirik lagu populer. Ini sudah jadi hal biasa di lagu-lagu pop Jepang, yang menyisipkan satu-dua kata atau kalimat berbahasa Inggris dalam lirik lagu-lagunya. Sempat kupikir, lucu juga kali ya. Unik, gitu. Tapi mungkin kebiasaan orang Indonesia, lebih gampang meniru saja ya, bukan membuat inovasi. Kalaupun ada yang membuat inovasi, jumlahnya masih sedikit sekali dibandingkan dengan populasi di negeri ini. Ayo anak bangsa, tunjukkan karya pada dunia.
Katakan terima kasih kepada para pendahulu, dan katakan selamat tinggal pada kebiasaan meniru, mengekor, apalagi plagiarisme. Jangan ragu ucapkan, terima kasih (karena memberi contoh baik), dan selamat tinggal (kebiasaan buruk).

Jumat, 27 Maret 2009

Made In Indonesia 15 Chart

Kembali ke Rase FM, radio yang seringkali kudengarkan dalam perjalanan pulang-pergi dari rumah ke tempat kerja.
Salah satu program siaran yang kudengar dalam perjalanan pulang, malam-malam, jam 8-an, ya program yang satu ini, "Made in Indonesia 15 (lima belas) Chart". Halah! Bahasa yang campur-campur lagi. Lucu jadinya.
Kelimabelas lagu yang masuk dalam daftar lagu terbaik pekan itu, semuanya berbahasa Indonesia dan semuanya dinyanyikan oleh penyanyi atau pemusik Indonesia. Tapi judul programnya kok ya... bercampur dengan bahasa Inggris ya? Mengapa tidak "15 Tangga Lagu Indonesia" saja, atau "15 Lagu Buatan Indonesia", atau "Karya Anak Bangsa Indonesia 15", atau apa saja deh, yang menggunakan bahasa Indonesia. Bukankah akan lebih jelas mengidentifikasi kebanggaan kita terhadap karya seniman Indonesia sendiri? Ayo dong, kita apresiasi dengan bahasa kita sendiri pula. Jika bukan kita yang bangga dan memakainya, siapa lagi yang akan melestarikan bahasa Indonesia, jangan sampai di-klaim pula oleh bangsa lain. :p