Senin, 26 Oktober 2009

Lelucon Universal

Pernahkah mendengar humor tentang gajah dan jerapah dalam kulkas berikut ini?
Tanya: Bagaimana cara memasukkan gajah ke dalam kulkas?
Sonya: (???) Tak mungkinlah...

Tanya: Bisa saja. Buka pintu kulkas, masukkan gajahnya, lalu tutup pintu kulkas.

Sonya: Bisa-bisanya kamu aja tuh...

Tanya: Ayo... sekarang bagaimana caranya memasukan jerapah ke dalam kulkas?

Sonya: Ya gampang. Buka pintu kulkas, masukkan jerapah, tutup pintu kulkas.

Tanya: Salah.
Sonya: Lho, apanya yang salah?

Tanya: Tidak akan muat-lah...
Seharusnya, buka pintu kulkas, keluarkan gajahnya, masukkan jerapahnya, lalu tutup pintunya.
Sonya: Wah... beneran nih, bisa-bisanya kamu aja.

Rupanya, lelucon di atas merupakan lelucon universal yang juga bisa ditemui di negara lain, hanya tinggal menterjemahkan ke bahasa lain tersebut. Hal ini aku alami ketika aku berada di Jepang. Dalam sebuah kesempatan perjalanan wisata, pemandu wisata di dalam bus mengisi waktu dengan sesi teka-teki. Salah satu pertanyaan yang dia ajukan adalah "prosedur" memasukkan gajah ke dalam kulkas. Aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan sukses!!! ;) Belum lama ini, kucari lelucon ini melalui mesin pencari google, dan kutemukan beberapa sumber berbahasa Inggris. Gajah dan Jerapah dalam kulkas ini ternyata memang lelucon universal. ;)

Kutipan Hari Ini

Resep untuk menjadi bahagia sangatlah sederhana, tapi sangat sulit untuk menjadi sederhana (Rabindranath Tagore)

Jumat, 23 Oktober 2009

Hape atau Ponsel?

Di jaman teknologi informasi seperti saat ini, siapa yang tak kenal atau tak punya HP? Eh… HP? Apakah HaPe? Atau ponsel? Apa sebetulnya sebutan yang tepat untuk alat komunikasi yang satu ini?
Ketika orang ramai mengatakan HP (baca: hape), ayo kita lihat asal katanya. Bukankah HP merupakan singkatan dari Hand Phone yang merupakan bahasa asing (Inggris)? Jika berasal dari bahasa asing, bukankah seharusnya pelafalannya pun mengikuti ejaan dalam bahasa aslinya, yaitu HP (baca: eij-phi). Jika kemudian singkapan tersebut diterjemahkan menjadi ponsel alias telepon seluler, saya pikir itu pun belum tepat, Itu adalah terjemehan langsung dari cell phone. Ada lagi sebutan lain untuk benda ini, yaitu telpon genggam, yang mungkin merupakan terjemahan dari handphone. Karena kebiasaan orang Indonesia untuk membuat singkatan dari berbagai macam hal, mungkin sempat terpikir untuk membuat singkatan dari telepon genggam, Apakah itu…? Pon-gam, atau pon-geng? Atau bisa juga telegeng atau telegam. Ah… nanti tertukar dengan telegram. Mungkin karena sulit menemukan kata yang mudah diucapkan sebagai singkatan, maka orang-orang akhirnya bersepakat secara umum untuk menyebutnya HP (baca: hape) dalam kesempatan casual/nonformal, dan menyebutnya tanpa singkatan ataupun ponsel untuk kesempatan yang lebih formil/resmi.
Sebutan sih boleh apa saja… tapi sebetulnya aku penasaran juga, Apa sih sebetulnya sebutan yang tepat untuk alat komunikasi ini? Yang mau memberi tahu, silakan lho…

Rabu, 21 Oktober 2009

Kutipan Hari Ini

Semua manusia harus berjuang untuk belajar sebelum mati, dan tahu apa saja hal yang mereka jauhi, dekati, dan alasannya (Jams Tuber)

Meraih Mimpi

Akhir September lalu, aku dan seorang teman berjanji untuk Meraih Mimpi bersama-sama. Maksudnya, mau menonton film animasi karya Nia Dinata ini di teater XXI CiWalk.
Setelah makan pagi yang terlambat dari rumah, aku pergi ke rumah Intan dulu. Menjemputnya sebelum kemudian berangkat bareng ke lokasi. Jalanan tidak terlalu padat, dan kami bisa sampai cukup cepat ke area Cihampelas. Di jalan Cihampelas itulah laju kendaraan padat merayap. Kendaraan dari atas (Ciumbuleuit dan Dago) ataupun Cipaganti, berbaur di Cihampelas. Kendaraan yang menuju gerbang tol Pasteur, ataupun yang masih ingin berlama-lama di Bandung dan menjajal area CiWalk, campur baur di sana.
Seperti sudah diprediksi, CiWalk ramai. Mencari slot parkir jadi susah sekali. Aku harus berputar naik berkali-kali hingga lantai tertinggi. Agak ngeri juga setiap kali mendaki landasan terjal menuju lantai berikutnya. Akan kuatkah katana kecilku? Jangan dulu memikirkan turunnya deh. Udah ngeri duluan. Tapi... rupanya kengerian itu terbayar dengan pemandangan indah dari atas gedung CiWalk. Di kejauhan nampak jembatan layang Pasupati yang gagah. Indah.
Aku dan Intan masuk di antrian pendek untuk mendapatkan tiket bioskop di teater 2 untuk film Meraih Mimpi. Dapat barisan paling belakang di sayap kiri. Lokasi yang cukup strategis, menurutku.
Kami pun menikmati tayangan film itu sambil menahan lapar gara-gara belum sempat makan siang. Tak kunikmati betul, sebetulnya. Mungkin karena lapar (hehe...), aku jadi ekstra kritis terhadap apa yang kulihat dan kudengar. Begitu banyak taburan bintang Indonesia yang terlibat di dalam proses produksi film itu, kurasa malah membuatnya jadi tidak fokus. Cut Mini sebagai Kakatu kurasa bermain apik. Logat melayu-nya masih sangat kental terdengar, tapi tetap menyenangkan untuk didengar. Penggambaran Gita Gutawa sebagai Dana si gadis desa dengan celana pendek birunya, kurasa tidak cukup membumi. Kurang meng-Indonesia, rasanya. Patton si idola cilik sebagai Rai, adiknya Dana, yang digambarkan suka kungfu, hm... lucu juga sih. Di beberapa scene-nya kok ya jadi seperti Kungfu Panda ya. Terlihat agak berlebihan atau dileih-lebihkan, tapi masih OK-lah.
Komunitas binatang di hutan sekitar, ini juga kurasa kurang tergarap dengan apik. Begitu banyak binatang dengan logat bahasa lokal yang tergabung di sana. Ada monyet berlogat Sunda, kancil berlidah Cina, bunglon dengan logat Jawa yang kental, sementara Kakatu konsisten dengan logat melayunya. Padahal mereka tinggal di hutan yang sama. Terasa sedikit janggal.
Mencermati gambar animasi sepanjang film ini, kupikir animator Indonesia yang terlibat boleh diberi applause untuk penyemangat kerja mereka. Belum bisa dibandingkan dengan animasi karya Disney atau Pixar sih. Masih jauh rasanya, tapi sudah cukup lumayan-lah. Gerak bibir para pemeran kadang tidak sinkron dengan kata-kata yang diucapkannya. Tapi sejauh ini, film itu masih bisa kuberi dua bintang deh.
Sementara itu, Gita Gutawa masih bisa mendapat poin tambahan ketika dia menyanyikan themesong untuk film ini. Cantik betul. Suaranya yang jernih, artikulasi yang pas dengan nada yang tepat membuat film ini semakin cantik. Lagi-lagi, jadi teringat film yang lain sebagai pembanding, dan film Meraih Mimpi ini kalah lagi. Petualangan Sherina dengan lagu-lagu cantiknya menurutku masih lebih bagus. Tapi sejauh ini, sejarah perfilman Indonesia sudah mencatat karya-karya besar anak bangsa yang membanggakan. Di masa depan, pasti akan ada film Indonesia yang lebih spektakuler dan mengguncang sejarah (karena bagusnya). Dan aku yakin, itu tidak akan lama lagi. Kami akan meraih mimpi-mimpi kami yang lain, untuk membangun kejayaan film Indonesia di mata dunia. Insya Allah.

Kutipan Hari Ini

Hanya ada dua cara menjalani hidup. Pertama, seolah tak ada keajaiban. Yang lain, seakan semua hal adalah mukjizat. (Albert Einstein)

Senin, 19 Oktober 2009

Karya Siapa...?

Sebuah iklan koran, cukup besar, menempati seperempat halaman surat kabar Republika yang biasa kubaca di rumah, cukup menyita perhatianku. Iklan kode RBT dari beberapa lagu yang memenangkan lomba cipta lagu muslim yang diselenggarakan Republika & Esia beberapa waktu yang lalu. Aku sempat nyaris ikut serta dalam lomba itu tahun ini, tapi batal. Salah seorang kenalanku ikut serta dan jadi salah satu juaranya.
Kutelusuri judul dan nama-nama yang tertera di iklan itu. Tak ada nama temanku di sana. Hanya ada nama penyanyi, judul lagu, dan nomor kode RBT yang bisa diunduh untuk nada dering ponsel kita. Hey hey... ke mana nama pencipta lagunya, orang di balik layar yang justru berperan besar hingga lagu tersebut ada? Mengapa justru nama penyanyinya yang dimunculkan, bukan penciptanya?
Hhh... mana penghargaan untuk hasil karya cipta seorang seniman musik? Setelah lagu tercipta, nama mereka tenggelam begitu saja. Justru penyanyi yang notabene hanya meniru tanpa melalui proses kreatif yang sulit, nama mereka malah bergaung lebih keras, hanya dengan gaya dan tingkah polah ke-artis-an mereka. Jangan heran jika kelak lagu-lagu akan dilabeli "NN" alias no name karena tak dikenali lagi penciptanya. Padahal mereka itulah yang membuat semarak dunia musik kita. Jangan heran juga jika kelak karya lagu musisi Indonesia akan dengan mudah di-transfer dan diakui oleh musisi dari negara lain, karena tak dikenalinya sang pencipta lagu. Ke mana penghargaan kita atas kekayaan intelektual ini? Sudah saatnya kita lebih menghargai pencipta lagu tinimbang sang penyanyi. Setuju-kah...?