Tampilkan postingan dengan label pencapaian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pencapaian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 November 2009

Kemenangan (Kecil) Ini Untuk Ibu

Sebelum ibu jatuh sakit, aku sudah mendapat panggilan telefon dari Balai Bahasa Bandung, mengkonfirmasi data mengenai aku dan blog yang kuikutsertakan dalam lomba blog kebahasaan yang mereka selenggarakan. Selain itu, petugas yang menelefonku juga menyemangati aku untuk terus meng-update posting-an di blog tersebut.
Sejak sebelum ibu jatuh sakit, aku minta doa pada ibu agar blog tersebut bisa lolos sebagai salah satu pemenang, sementara aku masih menyempatkan untuk menulis satu-dua posting-an baru, termasuk ketika ibu dirawat di Rumah Sakit, sekalipun (dua dari posting-an itu justru terinspirasi ketika aku ikut menunggui ibu di ruang tunggu ICU RSAI).
Jarang sekali ada pengunjung yang berkomentar di blog-ku itu, walaupun widget web counter yang kupasang di blog itu menunjukkan perkembangan jumlah pengunjung dari hari ke hari. Menjelang akhir Oktober, ketika saatnya pengumuman lomba blog, kukunjungi website Balai Bahasa Bandung berkali-kali untuk mencari tahu mengenai info pemenang lomba. Info tersebut tak juga kutemui, hingga siang tanggal 13 November tadi. Seorang petugas dari Balai Bahasa kembali menelefonku, mengabari perkembangan terbaru dari lomba itu. "Incaranku" adalah juara harapan 3... saja, berharap dari blog sederhana itu aku bisa meraih prestasi terendah (plus hadiah uang, tentunya. Hehe...)
Doa ibu menjelang akhir hayatnya rupanya didengar Allah. Blog tersebut, bahasamania.blogspot.com keluar sebagai salah satu pemenang di lomba tersebut. Bukan juara 1 atau 2 atau 3 sih... 'cuma' juara harapan 1, tapi ini lebih dari yang kutargetkan. Sebuah kemenangan kecil, tapi kemenangan kecil ini kupersembahkan untuk almarhumah ibu secara khusus, dan kepada semua pecinta bahasa (Indonesia) pada umumnya. Berikut ini link ke laman pengumuman hasil lomba.
Alhamdulillahi Rabbil'aalamiin.

Senin, 05 Oktober 2009

Ramadhan Tahun Ini...

Awal Oktober, harap-harap cemas aku mengecek situs islamonline.net. Aku mencari berita tertentu di situs Islam itu. Penasaran. 1 Oktober, berita yang kucari belum ada. 2 Oktober, juga belum. Tanggal 3 Oktober, hari Sabtu, ketika aku masih harus ke sekolah, tentu saja kusempatkan mengecek kembali berita yang kucari di dunia maya itu melalui komputer jinjing yang selalu kubawa ke sekolah. Masih juga belum ada.
Hari Minggu, nekat, nekat deh. Aku mengakses internet di rumah melalui komputer jinjingku dengan ponsel sebagai modem dan pulsa indosat reguler di dalamnya. Nekat. Kenapa coba? Mahal, tahu?! Apalagi kecepatan loading jadi menurun drastis. Tapi itu semua mengalahkan rasa penasaranku.  Ada pengumuman yang perlu kutahu. Kubuka lagi situs islamonline.net. Ah... akhirnya halaman muka situs itu bisa juga terbuka di layar komputerku. Ku-klik tombol informasi yang kucari, pengumuman lomba blog Ramadhan. Hasilnya, bisa diduga... Juara 1 sampai 3 (juara 3 dimenangkan 2 orang), ternyata nama-nama yang sama sekali belum kukenal. Kutelusuri lagi daftar lima orang runner up lainnya, the best 5, ceritanya. Satu dari Afsel, dua orang dari Inggris, satu dari India, dan yang kelima dari Indonesia, yaitu... aku!!! Subhanallah... Alhamdulillah...
Tak percaya rasanya. Cek lagi halaman situs itu, kubaca berkali-kali. Tetap namaku yang tertulis di sana. Senangnya... Buatku, ini bukan sekedar lomba blog biasa. Lomba kali ini harus berkisah tentang Ramadhan di negara kita dengan ke-khas-annya masing-masing, dan tulisan harus berbahasa Inggris. Bahasa Inggris tetap bukan bahasa pertamaku, dan aku pun masih tertatih untuk belajar menulis. Tapi hasil lomba ini jadi satu pencapaian kecil, satu langkah sukses lagi buatku. Bukan event yang luar biasa, memang, tapi partisipan yang datang dari berbagai negara membuatku bangga bisa jadi salah satu karya yang namanya disebut dalam pengumuman juara, walau hanya sebagai runner-up sekalipun. Semoga bisa jadi pemicu semangat untuk berbuat lebih banyak, melompat lebih jauh, dan berkarya lebih baik. Insya Allah.
Berikut ini link menuju situs tersebut: http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=Article_C&cid=1254573300647&pagename=Zone-English-ArtCulture%2FACELayout

Selasa, 29 September 2009

Jalan Berliku Menjadi Guru

Impianku tentang profesi yang kujalani saat ini. Majalah Chic berkenan mempublikasikannya di edisi 6-20 Mei 2009 (setelah mengalami sedikit proses editing). Dua pencapaian sekaligus. Hal pertama adalah ketika aku berhasil mewujudkan mimpi masa kecil ini, juga berupaya konsisten di jalan yang kupilih. Yang kedua, ketika pengalaman ini kutulis dan berhasil dipublikasikan di media cetak berskala nasional. Kubagi cerita tentang itu di sini.
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar saya sudah bercita-cita menjadi guru. Cita-cita itu tidak direstui ibu saya. Beliau tidak mengizinkan anak-anaknya mengikuti jejak beliau sebagai pendidik. Aneh memang, padahal beliau pun seorang guru yang mengajar di sekolah menengah. Alasannya, karena profesi guru tidak menjanjikan imbalan yang sepadan dengan usaha yang dilakukan. Sejak saat itu saya berusaha mengalihkan cita-cita saya ke bidang lain walaupun masih dibayangi keraguan.
Lulus SMA, saya bingung menentukan pilihan kelanjutan studi. Akhirnya saya ‘terdampar’ di jurusan desain yang sebetulnya juga saya sukai. Walaupun demikian, saya masih agak ogah-ogahan kuliah dan menyelesaikan studi di kampus Ganesha (nggak mau rugi, mumpung masih berstatus mahasiswa ITB, terdengar sangat kredibel bukan? Sementara setelah lulus, tentu saya harus segera lebur ke dalam dunia pekerjaan yang tak akan melihat dari mana latar belakang kita). Ketika sebuah sekolah swasta membuka peluang sebagai staf pengajar di sana, tanpa ragu saya pun mengirimkan surat lamaran, menjalani proses rekrutmen panjang, dan sukses bergabung dalam komunitas pendidikan itu. Menjadi guru, seperti cita-cita saya dahulu.
Bulan-bulan pertama tentu saja merupakan masa adaptasi yang tidak terlalu mudah. Selain latar belakang pendidikan saya bukan dari kependidikan, juga dipengaruhi oleh sistem sekolah itu yang sangat moderat,tidak seperti sekolah (negeri) pada umumnya. Ditambah lagi dengan sistem full day school yang diterapkannya, menuntut kreativitas tinggi untuk dapat ‘survive’ di sana.
Pahit-getir, susah-senang, tentu saya jalani bersama rekan-rekan yang datang dan pergi silih berganti. Saya berusaha bertahan, semakin mengerti jalannya sistem, dan semakin adaptif untuk mengikutinya. Mengajar berbagai mata pelajaran, justru saya sangat jarang diberi kesempatan mengajar Kesenian yang menjadi latar belakang pendidikan saya. Aneh, tapi saya melihatnya sebagai suatu berkah.
Ketika datang kesempatan untuk mendaparkan beasiswa penataran guru ke luar negeri, di tahun ke-5 masa kerja saya sebagai guru, alhamdulillah, saya memenuhi kriteria untuk itu. Lomba guru pun berhasil saya jalani dan mendapatkan hasil yang tidak terlalu mengecewakan. Intinya, tidak memalukan sekolah yang telah memberikan kepercayaan kepada saya sebagai wakil yang ditunjuk.
Saat ini, saya mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri di sekolah lain, sekolah yang baru berdiri. Tantangan di tempat baru ini, tentu berbeda dibandingkan dengan tempat pertama yang saya rasa telah sangat berjasa ‘membesarkan’ dan mendewasakan saya sebagai guru. Sulit memang, tapi saya pernah survive berkali-kali di tempat sebelumnya. Saya yakin, kali ini saya pun akan survive lagi, memperjuangkan cita-cita saya, sebagai guru yang mumpuni, untuk ikut serta berpartisipasi dalam dunia pendidikan di Indonesia.