Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 April 2010

Tulisanku di Forum Guru

Alhamdulillah... senangnya akhirnya tulisanku bisa tembus media koran daerah (untuk langkah awal... sebelum merambah ke media nasional). Setelah 'panas' gara-gara seorang teman yang sudah mempublikasikan tulisannya lebih dulu, aku akhirnya menulis dan mengirim ke koran daerah Pikiran Rakyat. Hari ini tulisan itu tayang di rubrik forum guru. Jangan dulu nagih honorarium, lha aku saja baru tahu bahwa tulisan itu dimuat di koran hari ini. Itu juga setelah diberitahu oleh kakakku yang mengirim pesan pendek. Kalau dia tidak memberi tahu, mungkin aku pun nggak akan 'ngeh' ;) Jika memang tulisan di gambar ini kurang jelas, yuk, berikut ini saya tulis ulang isi tulisan tersebut.
Belakangan ini, sekolah-sekolah dengan sistem full day school semakin banyak didirikan. Konon, karena tuntutan orang tua zaman sekarang yang menghendaki demikian. Semakin diminatilah sekolah serupa ini.
Sebagai seorang guru yang juga mengajar di sekolah semacam ini, saya mencoba sedikit menganalisa, apa sih kebaikan dari sekolah dengan sistem seperti ini? Secara umum, yang tentu saja masih perlu penelitian lebih jauh, beberapa data dan fakta saya temukan dalam perjalanan selama lebih dari 13 tahun malang melintang sebagai pengajar di sekolah dengan sistem full day ini.
Pertimbangan ini bisa ditujukan untuk Anda sebagai orang tua murid yang berencana untuk menyekolahkan putra-putrinya, atau bagi Anda yang berminat untuk membaktikan diri sebagai tenaga pendidik di sekolah seperti ini, khususnya sekolah Islam full day.
Jam kerja orang tua, pasangan suami-istri yang ketat dengan beban pekerjaan kantor mereka masing-masing, membuat mereka merasa harus menitipkan pendidikan anak-anak mereka pada sebuah lembaga terpercaya. Full day school menjadi pilihan untuk mengakomodir kondisi tersebut. Anak pulang di sore hari, tak lama sebelum kedatangan orang tuanya. Masih cukup waktu untuk membersihkan diri, dan bersiap menyambut ayah dan/atau ibu dari kantor.
Dalam struktur keluarga masa kini, keberadaan pembantu Rumah Tangga seperti menjadi sebuah keharusan. Tugas mereka bukan hanya sekedar memasak dan membersihkan rumah, mencuci dan menyeterika, tapi berkembang hingga merapikan peralatan sekolah anak dan membimbingnya belajar. Tapi akankah pembelajaran bersamanya akan optimal? Dengan latar belakang pendidikan maksimal SMA sekalipun, akankah PRT punya otoritas/kapabilitas untuk membimbing anak belajar dan beribadah? Ataukah tak berdaya pada kekuasaan dan keinginan si anak, dan membiarkannya menonton TV, bermain game komputer, atau mengakses internet sesukanya ke dunia maya?
Saat kegiatan anak terpusat di sekolah, mulai pukul 7.30 hingga pukul 4 sore, semua aktivitas sarat dengan nilai pendidikan.
Mulai dari ikrar pagi, guru sudah memandu siswa untuk fokus pada satu kegiatan saja. Dilanjut dengan doa pagi untuk memulai kegiatan pada hari itu, menggugah kesadaran siswa untuk selalu memulai segala aktivitas dengan memohon izin Allah. Semoga berkah.
Pembelajaran tentu saja disisipi dengan muatan moral aplikatif, semisal belajar menghargai pendapat orang lain, menyimak dengan baik, meminta izin untuk meminjam alat tulis teman, hingga meminta izin untuk minum di tengah-tengah waktu belajar.
Istirahat pagi digunakan untuk makan camilan sehat, diiringi kemauan untuk berbagi kepada teman. Pada kesempatan ini pun guru dapat mengenalkan berbagai jenis makanan ringan sesuai dengan apa yang dimakan anak, mengingatkan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya, hingga membersihkan remah-remah ataupun bungkus makanan kecil yang mereka bawa. Siswa belajar bertanggung jawab.
Sedangkan istirahat siang digunakan untuk rehat sejenak dari aktivitas rutin, untuk shalat dan makan siang. Guru memimpin doa, atau bahkan murid yang bergiliran memimpin doa dan menjadi imam. Sebuah pembelajaran mengenai sistem nilai ibadah yang sangat baik bersama aplikasinya sekaligus.
Kegiatan makan siang pun perlu dimanfaatkan untuk mengingatkan siswa agar mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan, berupa ketersediaan makanan yang beragam dalam menu makan siang yang tinggal mereka makan. Siswa belajar bertanggungjawab untuk menghabiskan makanan di piring mereka dan mengembalikan wadah makanan yang telah kosong ke dapur.
Menjelang pulang, aktivitas sekolah ditutup dengan shalat asar. Guru mengingatkan siswa untuk juga melaksanakan shalat di rumah (maghrib, isya dan subuh keesokan harinya). Sebelum shalat, guru dapat mengulang hafalan surat pendek yang diajarkan di sekolah, atau menceritakan kisah berhikmah. Selain memperkaya batin siswa, hal ini juga membuat guru terus memacu diri untuk mencari ilmu, baik untuk materi cerita maupun metode bercerita. Bukankah ini akan jadi keuntungan bagi banyak pihak?
Jika sudah sedemikian banyak keuntungan yang ditawarkan pihak sekolah dengan sistem full day, pertimbangan apa lagi yang Anda pikirkan? Segera daftarkan putra-putri Anda di salah satu sekolah serupa. Investasi Anda dalam menyekolahkan putra-putri akan terbayar lunas, bahkan berpeluang hadiah/bonus ketika putra/putri Anda menjadi anak-anak shalih dan shalihat yang masih terus mendoakan Anda bahkan ketika Anda telah tiada sekalipun. Bukankah doa dari anak yang shalih akan terus mengalirkan pahala kepada orang tua yang telah mendidiknya?
Sedangkan bagi kita, para pendidik, ilmu yang bermanfaat pun akan tetap diperhitungkan sebagai amal shalih, juga ketika kita telah tiada. Jadi, mari kita berlomba-lomba menuai kebaikan di sekolah dengan sistem full day.

Selasa, 29 September 2009

Jalan Berliku Menjadi Guru

Impianku tentang profesi yang kujalani saat ini. Majalah Chic berkenan mempublikasikannya di edisi 6-20 Mei 2009 (setelah mengalami sedikit proses editing). Dua pencapaian sekaligus. Hal pertama adalah ketika aku berhasil mewujudkan mimpi masa kecil ini, juga berupaya konsisten di jalan yang kupilih. Yang kedua, ketika pengalaman ini kutulis dan berhasil dipublikasikan di media cetak berskala nasional. Kubagi cerita tentang itu di sini.
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar saya sudah bercita-cita menjadi guru. Cita-cita itu tidak direstui ibu saya. Beliau tidak mengizinkan anak-anaknya mengikuti jejak beliau sebagai pendidik. Aneh memang, padahal beliau pun seorang guru yang mengajar di sekolah menengah. Alasannya, karena profesi guru tidak menjanjikan imbalan yang sepadan dengan usaha yang dilakukan. Sejak saat itu saya berusaha mengalihkan cita-cita saya ke bidang lain walaupun masih dibayangi keraguan.
Lulus SMA, saya bingung menentukan pilihan kelanjutan studi. Akhirnya saya ‘terdampar’ di jurusan desain yang sebetulnya juga saya sukai. Walaupun demikian, saya masih agak ogah-ogahan kuliah dan menyelesaikan studi di kampus Ganesha (nggak mau rugi, mumpung masih berstatus mahasiswa ITB, terdengar sangat kredibel bukan? Sementara setelah lulus, tentu saya harus segera lebur ke dalam dunia pekerjaan yang tak akan melihat dari mana latar belakang kita). Ketika sebuah sekolah swasta membuka peluang sebagai staf pengajar di sana, tanpa ragu saya pun mengirimkan surat lamaran, menjalani proses rekrutmen panjang, dan sukses bergabung dalam komunitas pendidikan itu. Menjadi guru, seperti cita-cita saya dahulu.
Bulan-bulan pertama tentu saja merupakan masa adaptasi yang tidak terlalu mudah. Selain latar belakang pendidikan saya bukan dari kependidikan, juga dipengaruhi oleh sistem sekolah itu yang sangat moderat,tidak seperti sekolah (negeri) pada umumnya. Ditambah lagi dengan sistem full day school yang diterapkannya, menuntut kreativitas tinggi untuk dapat ‘survive’ di sana.
Pahit-getir, susah-senang, tentu saya jalani bersama rekan-rekan yang datang dan pergi silih berganti. Saya berusaha bertahan, semakin mengerti jalannya sistem, dan semakin adaptif untuk mengikutinya. Mengajar berbagai mata pelajaran, justru saya sangat jarang diberi kesempatan mengajar Kesenian yang menjadi latar belakang pendidikan saya. Aneh, tapi saya melihatnya sebagai suatu berkah.
Ketika datang kesempatan untuk mendaparkan beasiswa penataran guru ke luar negeri, di tahun ke-5 masa kerja saya sebagai guru, alhamdulillah, saya memenuhi kriteria untuk itu. Lomba guru pun berhasil saya jalani dan mendapatkan hasil yang tidak terlalu mengecewakan. Intinya, tidak memalukan sekolah yang telah memberikan kepercayaan kepada saya sebagai wakil yang ditunjuk.
Saat ini, saya mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri di sekolah lain, sekolah yang baru berdiri. Tantangan di tempat baru ini, tentu berbeda dibandingkan dengan tempat pertama yang saya rasa telah sangat berjasa ‘membesarkan’ dan mendewasakan saya sebagai guru. Sulit memang, tapi saya pernah survive berkali-kali di tempat sebelumnya. Saya yakin, kali ini saya pun akan survive lagi, memperjuangkan cita-cita saya, sebagai guru yang mumpuni, untuk ikut serta berpartisipasi dalam dunia pendidikan di Indonesia.